Suku Dayak Benuaq: Menjaga hutan dan merawat warisan budaya Tenun Ulap Doyo


Akim, pengrajin Ulap Doyo di kampung Mancong, Kutai Barat, tengah mencari daun doyo di sebuah lahan yang tak jauh dari desanya. “Daun doyo ini akan dibuat sebagai serat bahan baku tenun khas suku Dayak Benuaq, yang disebut ulap doyo. Daun doyo ini kemudian dijadikan serat sambil dibilas di air sungai, atau disebut dilorot, dijemur dan dijadikan ‘benang’, lalu ditenun, biasanya diberi pewarna alami dari beragam tumbuhan hutan,” jelas dia.  Doyo merupakan jenis tanaman liar yang tumbuh di hutan ataupun di ladang milk penduduk di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Selain doyo, Akim juga mengambil pelepah kayu sebuah pohon untuk dijadikan pewarna alami.  Tanaman Doyo mirip dengan daun pandan tetapi berukuran lebih lebar, tanaman ini tumbuh di lahan-lahan pinggiran hutan dan ladang di wilayah Kutai Barat.

Ancaman dan Tantangan

Tanaman doyo dan berbagai tumbuhan Picture1yang digunakan untuk pewarna alami, saat ini sulit untuk dicari akibat pembukaan dan konversi lahan untuk perkebunan dan pertambangan di Kutai Barat sejak tahun 1990an.  Doyo yang biasa tumbuh di ladang penduduk juga tak mudah ditemukan karena banyak petani beralih menjadi pekerja tambang dan perkebunan kelapa sawit.

Rimin, pengrajin lainnya mengatakan sampai ke desa tetangga untuk mencari doyo.  “Susah cari doyo, sampai ke Muara Tae, atau ke daerah lain lah sekitar satu jam dari sini, itu akibat adanya perusahaan itu masuk kita daerah kita dan ditambah dengan adanya kebakaran, makin susah kita cari doyo,” jelas Rimin.

Sulitnya mencari tanaman doyo dan pewarna alam, membuat para perajin tenun menggunakan benang untuk membuat kain dengan motif ulap doyo, serta pewarna kimia.  Kemudahan mendapatkan benang sebagai bahan baku kain tenun, juga menyebabkan pembuatan Ulap doyo – yang diwariskan secara turun temurun di kalangan Suku Dayak Benuaq pun mulai bergeser.

Penggunaan benang dan bahan pewarna kimia yang diturunkan ke anak-cucu menyebabkan tenun berbahan doyo dan pewarna alami sangat jarang dibuat. Selain itu, tenun yang menggunakan benang lebih diminati karena lebih halus dan dapat digunakan untuk bahan pakaian. Sementara yang berbahan doyo cenderung kasar dan keras.

Peluang Pasar dan Kebijakan

Seiring dengan peningkatan permintaan ulap doyo – terutama dari wisatawan asing yang berkunjung ke Kutai Barat – membuat sejumlah warga pengrajin ulap doyo antara lain di Desa Tanjung Isuy dan Mancong kembali membuat tenun berbahan serat dari tanaman dan pewarna alami.

Tetapi, menurut Akim, mereka tak selalu dapat memenuhi permintaan tersebut.  “Doyo terutama yang dikembangkan, kalau tanpa doyo ulapnya tak bisa berkembang. Ini jadi fokus utama. Kalau ada bahan bakunya, pengrajin bisa diatur,” jelas Akim.

“Sekarang di Kutai Barat sekali pesan bisa 50 atau 100. Kalau sekarang mungkin cukup bahan baku, tenaga yang tidak ada karena kita kan bukan pabrik mereka pesan minta 50 itu minta selesai 3 hari. Kita bikin tak pernah ada tumpukan padahal nenun terus menerus,” tambah dia.

Proses pengerjaan ulap doyo – dengan ukuran lebar sekitar 50 centimeter dan panjang 150 centimeter – butuh waktu sekitar satu bulan, jika dilakukan sejak proses pencarian daun doyo lalu dijadikan benang dan kain.

Sekitar dua tahun lalu, ketika perusahaan tambang dan perkebunan sawit mulai berkurang, warga yang dulu bekerja di sana pun kembali berladang dan mengembangkan tanaman doyo.

“Dulu hanya lima orang yang bikin ladang, yang tua-tua saja, sekarang mereka bikin ladang, jadi kelihatannya doyo mudah dicari di ladang, sekarang saya lihat 90% masyarakat (kecamatan) Jempang bikin ladang, jadi doyo ini ada harapan,” jelas Akim.

Dilain pihak, Romawati dari NTFP-EP Indonesia mengatakan perlunya memperluas pasar untuk produk kerajinan di Kutai Barat agar masyarakat adat suku dayak Benuaq dapat melestarikan tradisi membuat ulap doyo dan menggunakan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan

Jaringan kerjasama NTFP-EP beserta dengan mitra lainnya seperti Cita Tenun Indonesia dan ASPPUK, dengan didukung oleh masyaralat ekonomi Eropa (EU) dan HIVOS, mencoba mengembangkan kegiatan produksi dan konsumsi tenun tangan yang berkelanjutan. Salah satu tujuan kegiatan ini adalah melakukan pengembangan produk berbahan Doyo serta meningkatkan kapasitas pengrajin Ulap Doyo di Kutai Barat.

Namun, Roma menilai pengembangan ulap doyo masih menemui hambatan.  “Meski pemerintah daerah kabupaten Kutai Barat mengeluarkan himbauan penggunaan baju motif ulap doyo bagi PNS, tetapi yang berkembang justru bahan cetak bermotif mirip ulap doyo. Jadi budaya tenun (dari tanaman) doyo ini tidak terangkat, untuk budaya menenunnya yang kurang diperhatikan,” jelas Roma.

Roma mengatakan pembukaan pasar yang lebih luas bagi Ulap Doyo ini akan mengangkat ekonomi para pengrajin di Kalimantan Timur , sekaligus mendorong pelestarian budaya menenun dengan menggunakan bahan alami yang diwariskan secara turun temurun. Untuk itu dibutuhkan adanya kebijakan yang lebih kuat di tingkat Kabupaten agar bisa mendorong kearah tersebut, paparnya.

Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151220_majalah_ulapdoyo